Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2023

𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐔𝐀 𝐇𝐀𝐑𝐔𝐒 𝐌𝐄𝐌𝐏𝐄𝐑𝐁𝐀𝐈𝐊𝐈 𝐃𝐈𝐑𝐈 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐈𝐇

✍️ 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐓𝐔𝐀 𝐇𝐀𝐑𝐔𝐒 𝐌𝐄𝐌𝐏𝐄𝐑𝐁𝐀𝐈𝐊𝐈 𝐃𝐈𝐑𝐈 𝐃𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐈𝐇 .  Bukti pula bahwa keshalihan orang tua berpengaruh pada anak, di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang shalih. Silakan lihat dalam surat Al-Kahfi, وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi: 82). ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan, مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ “Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467) .  Sumber https:

𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐓 𝐉𝐔𝐌'𝐀𝐓 𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀

 ✍️ 𝐇𝐔𝐊𝐔𝐌 𝐒𝐇𝐀𝐋𝐀𝐓 𝐉𝐔𝐌'𝐀𝐓 𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐖𝐀𝐍𝐈𝐓𝐀 .  Berdasarkan hadits thoriq Bin Syihab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ “(Shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dalam jama’ah kecuali bagi empat orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil dan orang yang sakit.”(HR. Abu Daud no. 1067, dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)  Begitu juga berdasarkan ijma’ para ulama, di antaranya: – Ibnul Mundzir: “Mereka (para ulama) sepakat tidak (wajib) shalat jum’at untuk wanita.” (Al-Ijma’ Hal. 40)  – Al-Khotthoby: “Fuqaha telah sepakat bahwa para wanita tidak (wajib) shalat jum’at.” (Ma’alimus Sunan 1/243)  – Ibnu Batthol: “Mereka (para Ulama) sepakat bahwa shalat jum’at tidak wajib bagi para wanita.” (Syarhu Shohihil Bukhory, Ibnu Batthol)  – Ibnu Qudamah: “Adapun wanita, maka tidak ada perselisihan bahwa tidak (

𝐒𝐄𝐋𝐄𝐊𝐓𝐈𝐅𝐋𝐀𝐇 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐍𝐓𝐔𝐓 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐀𝐆𝐀𝐌𝐀

 ✍️ 𝐒𝐄𝐋𝐄𝐊𝐓𝐈𝐅𝐋𝐀𝐇 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐍𝐓𝐔𝐓 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐀𝐆𝐀𝐌𝐀 .  ~ Kriteria Memilih Guru ~ Bagaimana kriteria orang yang bisa kita ambil ilmunya? Ibrahim An Nakha’i rahimahullah mengatakan: كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه “Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana akidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan-nya, no.434). .  Dari penjelasan beliau di atas, secara garis besar ada 3 kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih guru atau mengambil ilmu dari seseorang: 📌Akidahnya benar, sesuai dengan akidah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya 📌Ilmunya mapan, bukan orang jahil atau ruwaibidhah. Diantara cerminannya adalah cara shalatnya benar, sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. 📌Akhlaknya baik .  © 20